http://santosjayaabadi.co.id/factoryoutlet/contents/images/lg/posts/POST_Proses_Honey_biji_Kopi_(20171214012105).jpg

Proses Honey biji Kopi

Proses pengolahan buah kopi setelah panen memiliki banyak metode sebelum menjadi green bean dan kemudian green bean inilah nantinya akan disangrai, penyangraian pun juga perlu mempertimbangkan beberapa hal agar green bean dapat disulap menjadi biji kopi yang siap untuk diseduh. Tiap elemen dari masa tanam hingga ke secangkir kopi ternyata ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Perihal pengolahan buah kopi setelah panen pun ada beberapa metode, yang paling familiar adalah Honey Process.

Terlalu singkat jika kopi hanya seputar panen, penjemuran, kemudian sangrai dan jadilah biji kopi siap seduh. Di mana sisi menariknya menikmati secangkir kopi kamu hari ini, tanpa kisah sajian kopi hari ini tidak begitu istimewa. Selain profil rasa kopi yang khas, eksistensi kopi juga dikelilingi dengan kisah yang menarik. Salah satu kisah yang berkembang di berbagai negara menyelubungi proses pengolahan buah kopi dengan metode Honey Process. Namun sebelum kisah ini kami mulai, ada baiknya sama-sama berkenalan bagaimana yang dimaksud dengan Honey Process.

https://majalah.ottencoffee.co.id/wp-content/uploads/2017/12/depulper-coffee-beans.jpgcredi: icof.ee

Secara sederhana, mengapa dikenal dengan Honey Processhoney mengacu pada bagian yang menyelimuti biji kopi. Mucilage yang masih tertinggal pada biji kopi inilah yang sering disebut sebagai honey karena tampilannya berlendir dan mengkilap serupa honey. Warna dari mucilage ini pada umumnya agak kekuningan, kemerahan atau ada juga yang menggelap. Apa yang menyebabkan warna mucilage berbeda, sebelumnya mari beralih terlebih dahulu ke bagaimana honey process ini bermula.

Sedikit kisah tentang Honey Process, jika pengertian proses ini menghancurkan kulit bagian luar untuk meninggalkan sebagian daging buah kopi yang kemudian dijemur, maka ini ada kaitannya dengan pengolahan buah kopi di Brazil yang berkembang sekitar tahun 1970an. Kisah ini malahan sangat menarik, secara tidak sengaja malah bisa dibilang awal mula Honey Precess, pasalnya metode yang pada masa itu digunakan terlalu banyak menggunakan air pada prosesnya dan membutuhkan waktu lama sampai biji kopi siap untuk dijual. Untuk menghemat penggunaan air, maka setelah memisahkan buah kopi dari kulitnya selanjutnya langsung dijemur, dan ini berhasil untuk mempercepat proses pengolahan pada masa itu.

Sekitaran tahun yang sama di luar negera Brazil, beberapa tempat juga menggunakan metode yang tumbuh dan berkembang sendirinya, di Ethiopia pengolahannya Natural Proces, biji kopi asal Kenya malahan lebih lama masa fermentasinya dari kebanyakan, proses ini malah hampir serupa semi-washed pada akhirnya. Namun apa pun metodenya, petani pada masa itu tidak berpikiran untuk konsisten menggunakan satu metode, tapi metode yang mereka gunakan biasanya dipengaruhi oleh iklim yang terjadi ketika panen buah kopi berlangsung.

https://majalah.ottencoffee.co.id/wp-content/uploads/2017/12/coffee-bean-mucilage.jpgcredit: royalnylab.com

Hampir di setiap negara memiliki metode pengeringannya sendiri yang hampir mengacuh ke metode Honey Process dan beberapa juga berimprovisasi dengan metode tersebut agar mendapatkan pencapaian yang diinginkan. Sedikit prosedur yang dipercaya dapat mengimprovisasi hasil biji kopi ketika pengeringan berlangsung. Walaupun tiap perkebunan atau pabrik kopi memiliki perbedaan di antaranya, ada yang fokus terhadap banyaknya mucilage pada biji kopi mampu mempengaruhi profil rasa biji kopi, dan yang satunya profil rasa biji kopi dipengaruhi oleh durasi pengeringan dan tempat pengeringan.

Sekilas tentang karakteristik warna mucilage kopi, benarkah kadar mucilage yang ada pada biji kopi dapat mempengaruhi profil rasa si kopi. Perbedaan warna ini disebabkan dari kadar lendir mucilage yang melekat pada biji kopi, dan biasanya karena proses fermentasinya atau ketika mencucinya. Mucilage berwarna putih atau kekuningan ini karena kadar mucilage sedikit dan hampir tidak ada, warna inilah warna biji kopi sebelum dijemur, karena terlalu lama terkena air saat prosesnya. Dan mucilage yang kemerahan kadarnya setengah dari jumlah mucilage yang ada pada biji kopi, dan umumnya profil rasa yang ditawarkan mendekati rasa asam buah aprikot kering. Sedangkan mucilage yang menggelap ini sebabnya kadarnya banyak yang melekat pada biji kopi, pada susunannya sebuah lapisan yang ampir mendekati kulit buah kopi, profil rasanya seperti buah plum.

Dan pada akhirnya, sebenarnya metode pengolahan yang bagaimana yang dapat mengoptimalkan profil rasa dari biji kopi. Jika para perkebunan kopi atau pabrik kopi menggunakan metode tradisional saja sudah dapat menyajikan beragam kopi nikmat seperti sekarang, lalu bagaimana seiring berkembangnya zaman, dengan sedikit penelitian pasti memungkinkan untuk menghasilkan biji kopi dengan profil rasa yang optimal dan konsiten.

 

 

Bagikan News Ini